Oleh Cecep Hilman & Qurrota A’yuni Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Jakarta Dunia yang kita tinggali hari ini sedang mengalami defisit cinta. Data global tentang kesehatan sosial memperlihatkan gejala krisis kemanusiaan yang semakin nyata. Laporan UNESCO menunjukkan lebih dari sepertiga pelajar dunia pernah mengalami kekerasan emosional dan bullying , sebuah tanda bahwa ruang aman psikologis semakin menyempit di lingkungan pendidikan. Di sisi lain, riset WHO menegaskan peningkatan gangguan kecemasan khususnya pada usia dewasa muda, banyak di antaranya dipicu oleh relasi sosial yang tidak sehat, tekanan sosial, serta hilangnya ruang kasih di tengah masyarakat. Fenomena-fenomena ini selaras dengan pesan yang ditulis dalam Diary Petualangan Panca Cinta: terlalu banyak “benih cinta” yang gagal tumbuh, dan terlalu banyak “hama batin” seperti kemarahan yang tidak terkelola, ketakutan sosial, kompetisi yang mematikan kolaborasi, hingga budaya bully yang merampa...
Oleh Cecep Hilman Pengantar Edifikasi Kata edifikasi terdengar tidak sepopuler kata toleransi, karena memang hampir jarang ditemukan penggunaan istilah edifikasi dalam diskursus toleransi. Walaupun sesungguhnya praktek edifikasi mungkin sudah biasa dilakukan oleh banyak orang dan penganut ajaran agama masing-masing dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Edifikasi atau talk nice bicara yang baik, dalam arti lebih luas edifikasi adalah berpikir, bersikap, dan berkata positif. Kerendahan hati, tidak jumawa, tidak sombong, menghargai, menggunakan power atau meminjam power manakala kita tidak memiliki power untuk mendorong maju orang lain, mengendalikan ego yang dilakukan dengan tulus. Edifikasi tidak sekedar berpikir yang berbuah sikap, atau kata dan bicara yang berbuah perbuatan yang dilakukan secara bersyarat. Perilaku edifikasi dilakukan berkesinambungan sehingga menjadi kebiasaan bahkan karakter. Kebiasaan yang membangun karakter ini dapat pula berbentuk budaya dalam ling...
Nah bener tuh penampilan juga penting.setuju pa
BalasHapus